Minggu, 27 September 2015

Tulisan Gunawan Muhamad soal perubahan Mekah

Mekah

– Tapi kini, di abad ke-21, Wahabisme dan kapitalisme bertaut, dan Mekkah berubah

Betapa berubahnya Mekah. Duduk di salah satu sudut Masjidil Haram ketika matahari meredakan panasnya, kita bisa merasakan bayang-bayang sebuah bangunan yang menjangkau langit dari arah Selatan.

Memang: di seberang gerbang Baginda Abdul Aziz, berdiri sebuah super-gedung, (baru diresmikan Agustus tahun ini), yang disebut Abraj al Bait. Raksasa ini lebih dari 600 tingginya: menara waktu yang paling jangkung sedunia. Empat muka jam di puncaknya masing-masing berbentuk mirip Big Ben di London, meskipun mengalahkannya dalam ukuran: diameternya masing-masing 46 m, dengan jarum panjang yang melintang 22 meter. Dan berbeda dari Big Ben, di jidatnya yang diterangi dua juta lampu LED tertulis الله أكبر , “Allahu Akbar.”

Di Abraj al Bait ada 20 lantai pusat perbelanjaan dan sebuah hotel dengan 800 kamar. Juga tempat tinggal. Garasenya bisa menampung 1000 mobil. Tapi para tamu dan penghuni juga bisa datang dengan helikopter (ada lapangan untuk menampung dua pesawat), karena ini memang tempat bagi mereka yang mampu menyewa, atau memiliki, kendaraan terbang itu. Ongkos semalam di salah satu kamar di Makkah Clock Royal Tower bisa mencapai 7.000.000 rupiah.

Dari ruang yang disejukkan AC itu orang-orang dengan duwit berlimpah bisa memandang ke bawah — ya, jauh ke bawah — mengamati ribuan muslimin yang bertawaf mengelilingi Kaabah bagai semut yang berputar mengitari sekerat coklat.

Saya tak bisa membayangkan, bagaimana dari posisi itu akan ada orang yang bisa menulis seperti Hamka di tahun 1938. Apa kini artinya “di bawah lindungan Kaabah”? Justru kubus sederhana tapi penuh aura itu yang sekarang seakan-akan dilindungi gedung-gedung jangkung, terutama Abraj al Bait yang begitu megah dan gemerlap — dengan 21.000 lampunya yang memancar sampai sejauh 30 km dan membuat rembulan di langit pun mungkin tersisih.

Betapa berubahnya Mekah. Atau jangan-jangan malah berakhir. “It is the end of Mekkah“, kata Irfan al-Alawi, direktur pelaksana Islamic Heritage Research Foundation di London kepada The Guardian. Nada suaranya murung seperti juga suara Sami Angawy.

Hampir 40 tahun yang lalu arsitek ini mendirikan Pusat Penelitian Ibadah Haji di Jeddah. Dengan masygul ia menyaksikan transformasi Mekah berlangsung di bawah kuasa para pengusaha properti dan pengembang. “Mereka ubah tempat ziarah suci ini jadi mesin, sebuah kota tanpa identitas, tanpa peninggalan sejarah, tanpa kebudayaan dan tanpa lingkungan alam. Bahkan mereka renggut gunung dan bukit.”

Angawy, 64 tahun, mungkin terlalu romantis. Ia mungkin tak mau tahu hukum permintaan dan penawaran: jumlah orang yang pergi haji makin lama makin naik; kalkulasi masa depan mendesak. Mekah harus siap. Tapi Angawy justru melihat di situlah perkaranya. Ia menyaksikan “lapisan-lapisan sejarah” Mekah dibuldoser dan dijadikan lapangan parkir.

Akhirnya ia, yang lahir di Mekah, menetap di Jeddah, di rumah pribadinya yang didesain dengan gaya tradisional Hijaz. Ketika Abraj al Bait dibangun seperti Big Ben yang digembrotkan (“meniru seperti monyet”, kata Angawy) ia merasa kalah total. Ia lebih suka tinggal di Kairo.

Tapi bisakah transformasi Mekah dicegah? Kapitalisme membuat sebuah kota seperti seonggok besi yang meleleh, untuk kemudian dituangkan dalam cetakan yang itu-itu juga. Dengan catatan: dalam hal Mekah, bukan hanya karena “komersialisasi Baitullah” kota suci itu hilang sifat uniknya. Angawy menyebut satu faktor tambahan yang khas Arab Saudi: paham Wahabi.

Wahabisme, kata Angawy, adalah kekuatan di belakang dihancurkannya sisa-sisa masa lalu. Dalam catatannya, selama 50 tahun terakhir, sekitar 300 bangunan sejarah telah diruntuhkan. Paham yang berkuasa di Arab Saudi ini hendak mencegah orang jadi “syrik” bila berziarah ke petilasan Nabi, bila menganggap suci segala bekas yang ditinggalkan Rasulullah – dan sebab itu harus disembah.

Sejarah Arab Saudi mencatat dihapusnya peninggalan sejarah itu secara konsisten. April 1925, di Madinah, kubah di makam Al-Baqi’ diruntuhkan. Beberapa bagian qasidah karya al-Busiri (1211–1294) yang diukir di makam Nabi sebagai himne pujaan ditutupi cat oleh penguasa agar tak bisa dibaca. Di Mekah, makam Khadijjah, isteri Nabi, dihancurkan. Kemudian tempat di mana rumahnya dulu berdiri dijadikan kakus umum.

Contoh lain bisa berderet, juga protes terhadap tindakan penguasa Wahabi itu. Di awal 1926, di Indonesia berdiri “Komite Hijaz” di kediaman K. H. Abdul Wahab Khasbullah di Surabaya, ekspresi keprihatinan para ulama.

Reaksi dari seluruh dunia Islam itu berhasil menghentikan destruksi itu. Tapi kini, di abad ke-21, Wahabisme dan kapitalisme bertaut, dan Mekkah berubah.

Mengherankan sebenarnya. Di sebuah tulisan dari tahun 1940 Bung Karno mengutip buku Julius Abdulkarim Germanus, Allah Akbar, Im Banne des Islams. Di sana Bung Karno menggambarkan kaum Wahabi sebagai orang-orang yang dengan keras dan angker mencurigai “kemoderenan”; mereka bahkan membongkar antena radio dan menolak lampu listrik. Tapi kini, seperti tampak di kemegahan Abraj al Bait bukan hanya lampu listrik yang diterima, tapi juga transformasi Mekah jadi semacam London & Las Vegas. Apa yang terjadi?

Mungkin sikap dasar Wahabisme tak berubah. Menghapuskan petilasan (menidakkan masa lalu), sebagaimana menampik “kemoderenan”, (menidakkan masa depan) adalah sikap yang anti-Waktu. Jam besar di Abraj al Bait itu akhirnya hanya menjadikan Waktu sebagai jarum besi. Benda mati. Dan bagi yang menganggap Waktu benda mati, yang ada hanya rumus-rumus ibadah tanpa proses sejarah.

Tapi apa arti perjalanan ziarah, tanpa menapak tilas sejarah dan menengok yang pedih dan yang dahsyat di masa silam?

Mungkin piknik instan ke kemewahan.

Goenawan Mohamad

Senin, 18 Mei 2015

Embun Senja

Aku merasa terlahir kembali

Seketika bahagia datang tak bertepi

Pembicaraan dengan kawan lama telah membukakan memori usang yang telah lama berdebu

Memori yang terkunci lama oleh rasa frustasi mendalam

Rasa yang begitu menarik dan menggugah, dulu kala, saat masih hijau dulu

Engkau masih sempurna, tak banyak bicara, bibir mengulum tanpa senyum, tak terbuka pada murahan

Engkau masih disana, di sudut ruang yang sama, membaca entah apa dan untuk mengapa, ah apa perduliku...

Sendu tatapanmu dan ranum bibirmu sudah cukup menasbihkan dunia hanyalah senda gurau belaka.


Tapi memang Tuhan telah menakdirkan yang lain.
Engkau terbang mengarungi langit, menebas arak arakan awan
Aku sibuk meracau di bumi, memanjat pohon tertinggi, mencoba melompati awan, dan aku terjerambab jatuh dalam kubangan lumpur


Selalu menyilaukan melihatmu
Seperti melihat matahari sesaat setelah melawan kantuk pagi

Engkau selalu begitu
Membuat ku sendu termenung dalam hening

Apalah arti semua janji kerajaan langit jika tak ada kamu dalam gulungan rencanaku

Tak menariklah menaklukkan bintang malam, jika pada akhirnya tak bisa kupersembahkan untukmu

Tak menariklah kota ini
Sungguh menarik desa itu
Tempat kamu menyepi

Aku akan kesana dan kita akan bersama
Menyusuri derasnya arus kali dengan rakit bambu mereka

Sederhana, tidak bersentuhan dengan teknokrat, tapi membuncahkan rasa bahagia, menepikan pagi dengan senja ditanganmu...

Sabtu, 02 Mei 2015

Ketegasan Lincoln Pelajaran Demokrasi yang Mahal by DAHLAN ISKAN Mantan CEO Jawa Pos


MENJADI Amerika yang hebat seperti sekarang ternyata juga tidak mudah. Bahkan, ketika negara itu sudah berumur 90 tahun (tahun ini negara kita berumur 70 tahun) masih mengalami guncangan yang nyaris membuat semuanya berantakan: perang sipil.

Itu terjadi gara-gara rakyat di tujuh negara bagian di wilayah selatan tidak puas atas kemenangan calon presiden Abraham Lincoln. Misi yang dibawa calon presiden itu dianggap tidak sejalan dengan aspirasi di tujuh negara bagian tersebut. Mereka menginginkan perbudakan tetap diperbolehkan. Sedang Lincoln sejak kampanye ingin mengakhiri perbudakan.

Waktu itu calon presidennya empat orang. Lincoln mendapat suara 1.866.000. Calon berikutnya mendapat 1.376.000 suara. Sedang dua lainnya mendapat 850.000 dan 560.000-an suara. Total pemilih baru 3.600.000-an. Pada 1861 itu, saat republik sudah berumur 90 tahun, perempuan masih belum boleh memiliki hak pilih. Demikian juga warga kulit hitam. Penduduk di 14 negara bagian juga belum punya hak pilih. Pada tahun itu, mereka belum menjadi negara bagian. Status Kansas, Colorado, Nevada, sampai Washington masih teritori.

Perjalanan menjadi sebuah negara demokrasi seperti sekarang ternyata tidak secepat yang kita perkirakan. Begitu bencinya terhadap presiden terpilih, tujuh negara bagian tersebut menyatakan memisahkan diri dari Amerika. Mereka membentuk negara sendiri dengan nama Confederate States of America atau disingkat Confederacy. Mereka juga memiliki bendera nasional tersendiri: merah disilang biru dengan bintang putih sebanyak tujuh di silang warna biru itu. Tapi, bendera tersebut kemudian diganti dan diganti lagi sampai tiga kali.

Bagi wilayah selatan, budak itu penting. Penghasilan pokok wilayah tersebut berasal dari kapas. Kebun kapas memerlukan banyak buruh. Tanpa buruh, perkebunan itu bisa lumpuh. Tapi, karena upah buruh itu amat murah, persaingan ekonomi menjadi tidak fair. Wilayah utara tidak menganut sistem perbudakan karena perbudakan dianggap melanggar moralitas dan ajaran agama.

Untuk melihat gambaran itu, minggu lalu saya ke Nashville di Tennessee. Saya ingin tahu mansion (rumah) presiden ketujuh Amerika yang dikelilingi perkebunan kapas seluas 150 hektare. Kini perkebunan tersebut menjadi taman hijau yang mengelilingi mansion-nya. Menurut catatan di situ, Jackson memiliki 300 budak.

Jackson kawin dengan seorang janda. Tapi, karena sang janda belum punya surat cerai, perkawinan itu diperbarui beberapa tahun kemudian. Dia pernah marah kepada mantan suami itu karena selalu mem-bully-nya. Jackson menulis surat, menantangnya untuk duel adu tembak. Meski lawannya dikenal sebagai jago tembak, Jackson minta dia menembak lebih dulu. Tembakan itu mengenai dada Jackson, tapi tidak membuatnya roboh. Giliran Jackson menembaknya: tewas.

Tujuh negara bagian di wilayah selatan (South Carolina, Florida, Mississippi, Alabama, Georgia, Texas, dan Louisiana) seperti itu semua. Karena perbudakan dilarang, mereka pilih mendirikan negara baru. Inisiatornya South Carolina. Proklamasi itu dilakukan setelah Lincoln terpilih, tapi sebelum dilantik.

Bahkan, ketika presiden terpilih itu dalam perjalanan menuju tempat pelantikan, seseorang berusaha membunuhnya. Waktu itu perjalanan kereta api dari kampungnya di Illinois ke Washington sudah tiba di Baltimore, tinggal satu jam lagi sampai Washington DC. Untuk keselamatannya, sisa perjalanan itu dilakukan secara rahasia.

Tapi, Lincoln tidak gentar. ”Saya pilih mati daripada berkompromi dengan mereka,” ujar Lincoln dalam satu pidato waktu itu.

Separatis di selatan itu dia nilai melanggar konstitusi dan harus dihadapi dengan tegas. Tidak ada negosiasi dan tidak ada kompromi. Maka, ketika tentara Confederacy mulai menyerang satu kota perbatasan di wilayah Union (istilah untuk wilayah Amerika yang tidak memisahkan diri), Lincoln mengerahkan pasukan habis-habisan.

Terjadilah perang sipil yang berlarut. Selama empat tahun. Korban luar biasa. Mencapai hampir 1,5 persen dari jumlah penduduk. Amerika ternyata pernah menempuh jalan yang begitu mahal untuk mempertahankan kesatuan wilayahnya. ”Kalau sekarang, 1,5 persen itu berarti 1,5 juta orang,” ujar ahli sejarah di Indiana yang saya ajak ngobrol bulan lalu.

Pada akhir masa jabatannya, popularitas Lincoln benar-benar merosot. Dia sendiri merasa tidak akan terpilih lagi. Sebulan sebelum pilpres, Lincoln seperti pasrah akan nasibnya, tapi tidak pasrah mengenai sikapnya terhadap para separatis. Bahkan, dia menegaskan akan meningkatkan serangan ke wilayah Confederacy di sisa masa jabatannya yang pendek. Termasuk akan memanfaatkan masa empat bulan antara terpilihnya presiden baru dan pelantikannya. Pokoknya, perang harus berakhir sebelum dia secara resmi turun dari Gedung Putih. Dan harus menang.

Peningkatan serangan itu membuat tentara Confederacy kian lemah. Lincoln ternyata kembali terpilih dengan kemenangan telak. Maka, kemenangan tentara Union menjadi kian nyata.

Kemenangan kembali Lincoln dan gelagat Confederacy yang akan kalah membuat seseorang yang sangat benci Lincoln berbuat nekat. Tepat sebulan setelah Lincoln dilantik untuk masa jabatan kedua, orang itu, John Wilkes Booth, menembaknya dari jarak dekat di bagian belakang kepala Lincoln. Tewas.

Malam itu Lincoln dan Wakil Presiden Johnson diagendakan nonton bersama di sebuah teater di Washington. Booth tahu tentang agenda itu. Dia pun ikut nonton dengan tujuan membunuh dua orang tersebut. Dia agak kecewa karena di detik terakhir, wakil presiden batal ikut nonton karena harus pergi ke rumah putranya. Saat pengawal bersenjata ingin minum kopi dengan cara meninggalkan balkon khusus tempat presiden menonton, Booth menyelinap. Dor! Lincoln dilarikan ke rumah sakit, tapi tidak tertolong.

Booth melarikan diri. Dia bersembunyi di daerah pertanian di Virginia. Ketika 14 hari kemudian diringkus, dia melawan. Lalu ditembak di daerah pertanian itu. Mati.

Lincoln sempat tahu bahwa Confederacy sudah menyerah total pada 6 April 1865, hanya seminggu sebelum penembakan itu terjadi. Rupanya, Booth sangat terpukul oleh penyerahan diri panglima Confederacy tersebut.

Ahli sejarah sepakat bahwa Lincoln adalah satu di antara tiga presiden terhebat yang dimiliki Amerika Serikat. Dia tegas dan menang. Bukan tegas tapi kalah. Atau menang tapi tidak tegas. Dia tercatat sebagai presiden yang mengatasi tiga krisis sekaligus: krisis moral (soal perbudakan), krisis konstitusi (soal pemisahan diri), dan krisis politik (melakukan manuver politik untuk berkelit dari kompromi).

Lincoln sebenarnya anak desa yang tidak memiliki pendidikan formal. Dia lahir di pedalaman Kentucky, lalu pindah ke pedalaman Illinois. Di sini, Lincoln muda jadi tukang belah kayu untuk membuat bantalan rel kereta api. Kemudian menjadi pengacara. Lalu menjadi politikus lokal. Setelah menjadi politikus nasional, akhirnya dia mencalonkan diri sebagai presiden.

Ketika berkampanye di Chicago, di wilayahnya, seorang gadis berumur sebelas tahun sangat bersimpati kepadanya. Gadis itu begitu iba saat melihat tubuh Lincoln yang kerempeng dan wajahnya yang tirus. ”Baiknya Anda memelihara jenggot. Agar tidak kelihatan tirus,” ujar gadis itu. Setelah dilantik menjadi presiden, Lincoln benar-benar memelihara jenggot. Sampai akhir hayatnya di usia 56 tahun.

Demokrasi ternyata begitu mahal, untuk Amerika sekalipun. Tapi, sejarah mencatat, segala pengorbanan itu membuahkan hasil. Amerika menjadi segara superpower seperti sekarang. (*)

Sabtu, 31 Januari 2015

Coming Home



Cause all I know is we said hello
And your eyes look like coming home
All I know is a simple name, everything has changed
All I know is he held the door
You'll be mine and I'll be yours
All I know since yesterday is everything has changed



rasanya kesederhanaan itu selalu menyejukkan
hingar bingar hanyalah kegembiraan semu...

rasanya tak perlulah musik keras dan tempat remang-remang untuk merasa senang
sebuah taman dengan rumput hijau dan suasana sejuknya lebih dari cukup

rasanya begitu tenang dan aman...
saat bersama berbagi sepotong roti dan membincangkan cita-cita

berbagi bersama segalanya
menguatkan satu dengan lainnya

berbagi cerita yang mungkin saja tabu untuk awam
tapi begitu membangkitkan keseruan bersama

berbagi kata satu dengan lainnya
beradu pandang dengan mata berbinar-binar

adalah sebuah pemberian tak terhingga ketika memandang mata kekasih dan merasakan butterflies in our stomach



note: tulisan terinspirasi dari video klip Everything Has Changed by Taylor Swift. untuk pengungkapan penuh sudut pandang tulisan, silakan mengunjungi video klip tersebut di: https://www.youtube.com/watch?v=w1oM3kQpXRo

Minggu, 25 Januari 2015

Puisi Gus Mus: Kau Ini Bagaimana?

Kau ini bagaimana?
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir

Aku harus bagaimana?
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai


Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana?
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana?
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bisshowab

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana?
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana?
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana?
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana?
Atau aku harus bagaimana?

Puisi Gus Mus: Negeri Haha Hihi

Bukan karena banyaknya grup lawak, maka negeriku selalu kocak.
Justru grup-grup lawak hanya mengganggu dan banyak yang bikin muak.
 

Negeriku lucu, dan para pemimpinnya suka mengocok perut.
Banyak yang terus pamer kebodohan dengan keangkuhan yang menggelikan.
Banyak yang terus pamer keberanian dengan kebodohan yang mengharukan.
Banyak yang terus pamer kekerdilan dengan teriakan memilukan.
Banyak yang terus pamer kepengecutan dengan lagak yang memuakkan.


Hahaha..

Penegak keadilan jalannya miring.
Penuntut keadilan kepalanya pusing.
Hakim main mata dengan maling.
Wakil rakyat baunya pesing.

Hihihihi..

Kalian jual janji-janji untuk menebus kepentingan sendiri.
Kalian hafal pepatah produktif untuk mengelabui mereka yang tertindih.
Pepatah petitih.

Hahaha..

Anjing menggonggong kafilah berlalu, sambil menggonggong kalian terus berlalu.

Hahaha..

Ada udang dibalik batu, udang kepalanya batu.

Hahaha..

Sekali dayung 2 pulau terlampaui, sekali untung 2 pulau terbeli.

Hahaha..

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, kalian mati meninggalkan hutang.

Hahaha..

Hujan emas dinegri orang, hujan batu dinegeri sendiri.

Lebih baik yuk hujan-hujanan caci maki.

Minggu, 18 Januari 2015

Aku Ingin Mencari


"Ditemani seorang pendosa yg baik akhlaknya lebih kusenangi ketimbang ditemani seorang ahli ibadah yg buruk akhlaknya." - Al Fudhail

                    


Tiba-tiba hilang begitu saja
Rasa sangat menyejukkan dalam ritual ibadah

Ada yang bilang karena pengaruh pertemanan.
Mungkin ada benarnya.

Lama kurenungkan
Aku bertanya
Kenapa ritual ibadah terasa hampa?

Rasanya ritual ibadah hanya terasa sebagai substansi teknis belaka
Bukankah esensi ibadah adalah mengingatkan kita pada kebaikan, kepada Tuhan dan sesama Manusia.


Oh aku melihat, mereka yang secara administrasi negara seiman denganku
Mereka yang secara ibadah jauh lebih canggih daripadaku, ternyata tidak menerapkan esensi dari ibadah itu sendiri: kebaikan.

Mereka yang pakaiannya seiman denganku, sibuk bergosip, sibuk memfitnah, dan tak lupa korupsi pula.

Pakaian mereka tak salah mencirikan seiman denganku.

Tapi mereka asing, mereka bukan saudaraku...


Sabtu, 03 Januari 2015

Terpesona

Saya tidak sendiri.

Ya saya menemukan kenyataan yang sama yang saya rasakan ketika saya semakin beranjak dewasa.
Bahwa saya dan teman-teman kehilangan rasa kagum.

Rasa kagum terhadap banyak hal, dari hal kecil seperti makanan enak, tempat wisata, hingga yang paling fatal adalah kehilangan rasa meriah dari sebuah perayaan hari raya.

Rasanya, ketika kecil dahulu, perayaan hari raya terasa begitu menggairahkan. Makanannya, dekorasinya, dan acara yang berlangsung merayakannya begitu meriah. 
Itu dulu.

Rasanya begitu beranjak dewasa, rasa senang tak terhingga itu semakin tak terasa, seperti kopi yang terlalu lama dibiarkan, dingin dan hambar.

Rasanya perayaannya sama saja, tapi rasanya sudah tak mengagumkan lagi.

Rasanya lagu-lagu yang meyertai datangnya hari raya begitu menyejukkan.

Sebenarnya, kemana hilangnya pesona hari raya itu?

Minggu, 14 Desember 2014

Tetaplah Bersama Kami Doraemon



Waktu terbaik membuat kenangan adalah dimasa kecil dahulu kala.

Doraemon.

Sebuah fantasi fiksi yang menjadi idola hampir semua anak-anak generasi 90-an.

Waktu terus berjalan, para Childrens of 90's telah tumbuh dewasa, dan tak sedikit pula yang telah menjadi orang tua.

Sesuatu hal seperti kebanyakan tidak abadi bersama kita, tapi tidak dengan kenangan, kenangan tetap abadi, mungkin akan terlupakan untuk sementara waktu, tapi akan tiba waktu dimana kenangan itu menyeruak ke permukaan.

Stand By Me Doraemon 2014.

Seakan belum pernah tahu ceritanya, para anak-anak 90an yang kini telah dewasa, membanjiri semua sinema yang menawarkan Doraemon dengan kemasan kekinian.

Cerita masih sama saja, tapi kemasannya begitu indah dan mengharukan.

Doraemon Stand By Me telah membuat para orang dewasa menitikkan air mata, ikut merasakan kesedihan mendalam Nobita yang akan ditinggalkan Doraemon kembali kemasa depan.

Jangan...
Ya Doraemon
Jangan tinggalkan kami

Tetaplah Bersama Kami Doraemon!

Jumat, 19 September 2014

The Best Ten Jim Rohn Quotes

Quotes by Jim Rohn.

1. “Don’t wish it was easier, wish you were better. Don’t wish for less problems, wish for more skills. Don’t wish for less challenge, wish for more wisdom.”

2. “The challenge of leadership is to be strong, but not rude; be kind, but not weak; be bold, but not a bully; be thoughtful, but not lazy; be humble, but not timid; be proud, but not arrogant; have humor, but without folly.”

3. “We must all suffer one of two things: the pain of discipline or the pain of regret.”

4. “Days are expensive. When you spend a day you have one less day to spend. So make sure you spend each one wisely.”

5. “Discipline is the bridge between goals and accomplishment.”

6. “If you are not willing to risk the unusual, you will have to settle for the ordinary.”

7. “Motivation is what gets you started. Habit is what keeps you going.”

8. “Success is nothing more than a few simple disciplines, practiced every day.”

9. “Don’t join an easy crowd; you won’t grow. Go where the expectations and the demands to perform are high.”

10. “Learn how to be happy with what you have while you pursue all that you want.”

All Content Copy Paste From This: http://www.success.com/article/10-unforgettable-quotes-by-jim-rohn

Minggu, 07 September 2014

Anak-Anak Matahari

Teriknya mentari menggusarkan yang dewasa
Tapi diruang yang sama bisa menjadi taman bermain bagi bocah-bocah

Mereka bersepeda berputar-putar
Mereka berlari kesana sini

Mereka tertawa dengan riang
Tak terpikirkan tentang masalah dimasa depan
Toh buat apa dipikir juga
Kekhawatiran masa depan bukankah hanya ilusi bisikan setan?

Canda tawa riang
Keringat yang mengucur
Sesaat demi waktu bermain bola
Tak penting filosofi bermain
Tak pusing dengan taktik
Tendang saja kesana kemari
Cetak gol dan rayakanlah

Kebahagiaan itu bersemayam dalam hati riang anak kecil

Maka kita yang dewasa harus kembalilah kesana
Kekanak-kanakan
Tertawa riang bersama.

Jumat, 22 Agustus 2014

Prabowo antarkan Jokowi Presiden

Dalam bukunya Outlier, Malcolm Gladwell menuliskan bahwa kesuksesan pendiri raksasa teknologi seperti Bill Gates dan Steve Jobs dikarenakan mereka dibantu oleh banyak faktor, salah satunya adalah mereka lahir diwaktu yang tepat, sehingga mereka tumbuh disaat kesiapan mereka bertemu kesempatan.

Malcolm Gladwell menyebut anak-anak beruntung itu sebagai Outlier.

Jokowi adalah Outlier Politik Indonesia.

Jika saja Prabowo tidak mencalonkan diri.

Jika saja Demokrat memenangkan pemilu legislatif dan mengantarkan Dahlan Iskan sebagai capres.

Mungkin saja Jokowi bukan Presiden Ketujuh Indonesia.


2014 adalah 16 tahun dari 1998.
Tahun 1998 adalah sebuah peristiwa maha penting dari sejarah politik Indonesia.

16 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk mengantarkan para aktivis 98 menjadi anggota DPR dan Elit Partai di 2014 kini.

Kebencian akan penindasan orde baru masih belum punah, dan tiba-tiba saja memori itu disegarkan kembali dengan munculnya bekas menantu Suharto menjadi capres, ya orang itu adalah Prabowo.

Kebencian yang tiba-tiba muncul kembali membuat mereka elit partai dan para pengusaha kini yang mudanya dulu ditindas orde baru bergandeng tangan menghalau kembalinya orang yang akan menciptakan suasana traumatik orde baru dimasa reformasi.

Ya benar, buruknya reputasi Prabowo dikarenakan latar belakang orde barunya membuat mendukung Jokowi adalah harga mati bagi para anti orde baru.

Ya sekali lagi.
Andai kata Dahlan Iskan Capres bukannya Prabowo.
Maka bisa saja Dahlan Iskanlah Presiden Ketujuh Indonesia.

Jokowi harus berterima kasih kepada Prabowo.
Identitas orde baru Prabowo membawa berkah dukungan aktivis 98 bergulir deras kepada Jokowi.

Ya...
Prabowo antarkan Jokowi menjadi Presiden Ketujuh Indonesia.

Minggu, 27 Juli 2014

Teduh

Disaat Idul Fitri tiba, terdengar deru Takbir dikumandangkan:

"ALLAHU AKBAR... ALLAHU AKBAR… ALLAHU AKBAR.. LAA ILAA HA ILALLAH HU ALLAHU AKBAR.. ALLAHU AKBAR WALILLAH ILHAM"

Disaat Natal datang, Nyanyian merdu sahut menyahut:

"We wish you a merry Christmas
We wish you a merry Christmas
We wish you a merry Christmas
And a happy New Year"


Berbeda memang, tapi kenangannya sama, tentang sukacita, terutama mereka yang masih putih dan polos.

Setiap orang, memiliki kenangannya, tentang kedamaiannya.

Ada yang menyelipkan kenangan indahnya diantara opor dan ketupat.
Pun ada yang bola matanya bersinar-sinar ketika menghias pohon Natal.

Damai kata mereka
Teduh hati terasa

Tidakkah itu berarti kenangan indah itu adalah sebuah hasil perayaan dengan atributnya.

Adalah luar biasa ketika masih kecil dulu.
Beruntunglah Tuhan tak pernah menumbuhkan kita langsung dewasa.

Baik itu Lebaran ataupun Natal adalah hari sukacita bagi para anak kecil
Bercanda bersama
Makan kue sepuasnya
Hanya di hari-hari itu


Entah kenapa
Waktu berjalan
Kita dewasa
Dan kegembiraan hari raya tak se-sentimentil dulu lagi

Mengapa...?

Sabtu, 19 Juli 2014

President Soekarno as a Politic Role Model



Golput di era Orde Baru adalah sebuah keberanian dengan nyali tinggi.
Sebuah idealisme luar biasa melawan sebuah tirani
Melawan sebuah kediktatoran!

Ya di era orde baru anda tak perlu menjadi Nostradamus untuk meramal siapa pemenangnya.
Meskipun ber-Calon Wakil Presiden-kan sendal jepit-pun, Sang Jendral Orde Baru pasti menjadi Kepala Pemerintahan Indonesia.


Di era reformasi
Golput mengalami degradasi nilai.
Bukan lagi sebagai manifesto keberanian melawan tembok tirani
Golput hanyalah tanda skeptisisme, bahkan lebih kasar lagi bisa dijudge sebagai sebuah kemalasan.

Ya Malas!
Di era reformasi ini mereka yang golput adalah para pemalas yang tak mau tau mencari informasi soal siapa Capres idealnya.

Meremahkan arti dari pemilihan presiden adalah bentuk mental yang anti-sosial.
Mereka yang golput tidak tahu betapa berbahayanya nasib satu generasi apabila salah pilih presiden.

Mau contoh?

Sebelum Bung Karno turun, beliau banyak memberikan beasiswa kepada mahasiswa-mahasiswa berprestasi, murni karena prestasi akademis, tanpa motif politik.
Sebagian besar beasiswa itu diarahkan untuk kuliah di negara-negara eropa timur yang pada era itu masih dikuasai paham komunis.

Lalu apa yang terjadi?

Roda berputar, Jendral Suharto naik, keluarlah kebijakan sapu bersih komunis.
Apa hubungan dengan mahasiswa-mahasiswa tersebut?
Apa mereka komunis? Tidak.
Apa mereka memberontak? Tidak.

Salah mereka, mereka dianggap orang-orang Bung Karno.

Lalu apa yang terjadi kepada mereka?
Mereka tak pernah bisa kembali ke Indonesia.
Blacklist orde baru, adalah bunuh diri jika mereka kembali ke Indonesia, karena penjara menanti dengan pasti.

Itulah contohnya betapa seorang presiden bisa membuat satu kebijakan yang mengubah satu generasi.

Mahasiswa berprestasi di era orde lama berubah menjadi buronan di era orde baru.



Lalu bagaimana caranya agar tidak skeptis terhadap pilpres?
miliki role model!

Dalam pemilihan presiden, saya hanya punya satu role model: Presiden Soekarno.

Dalam dua pemilu (2009 dan 2014) saya selalu mencari kesamaan capres yang saya dukung dengan karakter Bung Karno.

Di 2009, saya memilih JK dibanding SBY dan bahkan Megawati (putri kandung Bung Karno)
Bagi saya JK dengan sikap lugasnya, tanpa basa-basi, anti-protokol, cenderung hobi menabrak aturan demi pencapaian target, adalah representasi Bung Karno.

Dimasanya, Bung Karno dengan berani mengambil resiko finansial dengan membangun Stadion megah untuk Asian Games 1962, membangun jalan-jalan besar yang dinamai nama pahlawan seperti Jalan Diponegoro, Cokroaminoto dan lainnya.

Bung Karno dengan lantangnya menyebut penentang rencana pembangunannya tersebut sebagai orang berwawasan picik dan bermentalkan warung kelontong.
Bung Karno berkata bahwa itu bukan untuk keagungannya semata, tapi agar seluruh bangsa Indonesia dihargai dunia!

Masih dengan lantangnya Bung Karno berkata bahwa: "ya, memberantas kelaparan memang penting, tetapi memberi jiwa mereka yang telah tertindas dengan sesuatu yang dapat membangkitkan kebanggaan - ini juga penting!"

Ya, saya melihat spirit membangun JK, memiliki nafas Arsitektur Bung Karno: Kebanggaan Nasional!.

Sayang di 2009 JK kalah telak.


Di 2014, hanya ada dua nama yang menjadi Capres: Jokowi dan Prabowo.
Ini justru sangat memudahkan saya, hanya dengan sebelah mata saya langsung memilih Jokowi.

Mengapa bukan Prabowo?
Prabowo adalah bekas menantu Suharto dan punya spirit politik seperti bekas mertuanya itu.

Siapapun pengagum Bung Karno tau, bahwa Bung Karno meninggal sebagai tahanan politik, dengan pengobatan penyakit ala kadarnya dan diperlakukan dengan sangat buruk untuk level beliau sebagai Bapak Bangsa yang Memerdekakan Indonesia!
Itu semua ulah orde baru.

Puluhan tahun waktu berjalan
Perlakuan buruk Suharto terhadap Bung Karno tak akan bisa dilupakan begitu saja.


Ada satu lagi yang membuat saya memilih Jokowi: Blusukan.

Bung Karno dimasa sebelum 17 Agustus 1945 sangat suka berkeliling menemui rakyatnya.
Salah satu hasil blusukannya yang paling legendaris adalah pertemuannya dengan Petani Bumi Priangan bernama Marhaen.
Kelak pertemuan itu menginspirasi Bung Karno menggagas paham Marhaenisme.

Ya, spirit blusukan Jokowi, mengingatkan saya kepada pertemuan legendaris Bung Karno dengan Sang Petani tersebut.


Ya, saya menjadikan Bung Karno sebagai role model politik saya.
Pegangan saya disaat bimbang memilih pemimpin di Indonesia.
Ketika saya tak tahu harus memilih siapa
Saya duduk diam dan membaca ulang buku yang berisikan gagasan-gagasan politik Bung Karno.
Kemudian saya menjatuhkan pilihan politik saya.


Jumat, 18 Juli 2014

Hala Madrid Y Nada Mas (La Decima Song) Spanish and English Lyric

*Historia que tu hiciste
 History that you made

Historia por hacer
History to be made

Porque nadie resiste
Because no one resists

Tus ganas de vencer
Your desire to win

Ya salen las estrellas
The stars are coming out

Mi viejo Chamartin
My old Chamartin

De lejos y de cerca
From far and near

Nos traes hasta aqui
You bring us till here


**Llevo tu camiseta
  I wear your jersey

Pegada al corazon
Close to my heart

Los dias que tu juegas
The days that you play

Son todo lo que soy
Are all that I am

Ya corre la saeta
Now run the bolt

Ya ataca mi Madrid
My Madrid is attacking

Soy lucha, soy belleza
I am fight I am beauty

El grito que aprendi
The chant that I have learnt

Madrid
Madrid
Madrid

Hala madrid

Y nada mas
And nothing else

Y nada mas
And nothing else

Hala madrid

Back To *
Back To **



Kamis, 03 Juli 2014

Traveling Places: Quality or Quantity?

Banyak tempat
Sangat banyak malah
Destinasi wisata yang sayang untuk dilewatkan.

Wisata alam yang menyajikan panorama tiada duanya.

Wisata budaya kota dengan arsitektur berkelasnya.

Wisata kuliner yang memanjakan lidah.

Dan sejuta hal baru lainnya yang bisa kita temui dari sebuah traveling.

Dari begitu banyak tempat wisata dan daya tariknya....
Seberapa lama dia bisa menahanmu?

Apakah anda hanya mencicipi sedikit cita rasa kue disuatu kota dan mencari kue lain di kota lain?

Atau bertahan menghabiskan satu kue utuh, memesan lagi, memakannya lagi, dan bosan, dan baru pindah mencari kue di kota lain?

Sebenarnya...
Mana yang paling benar?

Dalam sebulan menyinggahi 10 kota

Atau

Tetap di satu kota saja selama sebulan.

Tentu saja kembali pada apa yang kita cari.

Mereka yang cukup puas dengan hanya sekedar foto-foto di objek wisata, akan memilih opsi pertama.

Tapi mereka yang ingin pengalaman utuh, pembelajaran budaya penuh tentang suatu kota, akan memilih opsi lainnya.

Saya pribadi, memilih opsi kedua.

Saya pernah beberapa kali traveling di suatu tempat hanya dalam waktu singkat, menarik, saya berfoto, pulang, dan melupakannya.

Tapi pernah, suatu waktu selama satu tahun saya stay disuatu kota, menjelajah kota dan berteman dengan penduduk lokal, berkesan dan tak pernah terlupakan.

Sebuah pilihan memang.
Pilihan yang saya sukai.

Setelah kota tadi, ada kota lain yang ingin saya jelajahi dalam periode waktu yang lama.

Semoga saya mendapatkan seperti yang saya rasakan di kota sebelumnya...

Kepuasan.

Rabu, 02 Juli 2014

Iklan Ramadhan Djarum

Anda pernah menonton iklannya?

Iklan ini bercerita tentang seorang karyawati perempuan yang malu dijemput ayahnya dengan motor butut.

Dia malu mengakui ayahnya didepan teman-temannya.

Diakhir cerita seperti iklan Ramadhan lainnya, karyawati tersebut akhirnya berbesar hati mengakui kalau pria tua dengan motor butut itu ayahnya.

Apa pesan moralnya?

Umumnya kita berkesimpulan bahwa kita harus berbangga dengan apapun keadaan ayah kita.
Itu sebuah kesimpulan yang tidak salah.

Hanya saja saya terpikirkan alternatif pesan moral yang lain.

Kesimpulan yang saya ambil, bukan persepsi dari sudut pandang si anak.
Tapi dari sudut pandang si ayah.

Saat ini atau kelak.
Kita akan menjadi orang tua.

Suatu fase yang pasti terjadi.

Ada sebuah quotes yang menasehati generasi muda: "sengsara diwaktu muda itu biasa, sengsara diwaktu tua itu menyedihkan"

Kembali ke Iklan.
Jika kita mengambil pesan moral dari sudut pandang si ayah.
Maka seharusnya kita bekerja keras di karir kita masing-masing, agar ketika anak-anak kita dewasa, mereka akan dengan bangga mengatakan: "lihat ayah sudah menjemputku"

Maka untuk itu, kita harus bekerja keras meniti karir, agar kelak bukan saja kita yang membanggakan prestasi si anak, akan tetapi anak kita turut bangga dengan prestasi kita orangtuanya.


Oh salahkah saya dengan pemikiran seperti itu?

Sabtu, 21 Juni 2014

Sunset Putra Sang Fajar

Hari ini 21 Juni.

Hari yang cukup ramai di Media Sosial.

Ramai dengan ucapan selamat ulang tahun untuk (calon) Presiden Jokowi.

Generasi muda beramai-ramai mengucapkan kepada sang capres.


Hari ini, ditengah ucapan selamat itu semua, generasi muda lupa, bahkan mungkin tidak tahu, bahwa hari ini pada tahun 1970, di hari yang sama ketika orang yang kelak menjadi Gubernur DKI berulang tahun ke sembilan, telah wafat seorang Penyambung Lidah Rakyat:

Bung Karno.

Ya Bung Karno wafat hari ini, oleh Orde Baru beliau dimakamkan di Blitar, dengan alasan itu kota kelahiran beliau.

Manipulasi yang tidak valid.

Alasan itu jelas salah dan tak bisa dipakai, karena Bung Karno lahir di Surabaya.

Semua pihak yakin, bahwa memakamkan Sang Proklamator disana adalah upaya Orba menghilangkan pengaruh sang Presiden Pertama dari Indonesia selamanya.

Padahal Bung Karno pernah menyebutkan ingin dimakamkan di Bumi Priangan. Tempat dia bertemu Petani Marhaen, yang menginspirasinya menggagas Marhaenisme.

Bung Karno meninggal dalam status tahanan politik.

Bung Karno meninggal dengan perlakuan yang sangat tidak layak dari Suharto dan Orde Baru.



Dua puluh satu Juni 1970.
Putra Sang Fajar tenggelam bagai Langit Senja.

Suatu hari yang mengawali Indonesia mengarungi tahun-tahun malam tanpa bintang, sampai matahari kembali terbit di tahun 1998.

Senin, 16 Juni 2014

Cokelat Hangat

Hembusan angin yang berselimutkan debu selalu menjadi pengalaman sehari-hari diteriknya siang bolong Blok M.

Banyak Bus datang dan pergi bersama para pendatang, sebagian kecil akan kembali ke kampung halamannya, sebagian besar lainnya menolak menyerah menaklukkan gedung pencakar langit ibukota.

Angka-angka berjumlah begitu banyak menghitung perpindahan raga manusia setiap harinya.

Namun tak pernah terpetakan, berapa banyaknya harapan yang digantungkan seiring berhentinya bus di terminal, bersama Sang Perantau, di Jakarta.

Ditengah padang gurun, para pengembara menepi diteduhnya Oase.

Kafe disekitar terminal adalah kemewahan yang sederhana.
Bukan hanya untuk mereka para perantau.
Namun mereka muda-mudi pun ada.


"Dingin ya Aww" komen Kinan sambil melihat kesekeliling Cafe.

"Iyyaa Ki, AC nya kebangetan" Awan mengangguk-angguk.

"Kupesenin yang anget-anget dulu yakk, Kii"

Awan dan Kinan menyeruput hangatnya Cafe Drinks.
Yang sederhana disaat yang tepat adalah sebuah kemewahan tersendiri.

"Blok M ramenya gak pernah sepi" ucap Kinan, melihat jalanan dari balik kaca kafe.

"Ada berapa orang yang datang dan pergi ya Aww"

"Ratusan kalik" Awan menyahut sambil menyeruput minumannya.

"Ihh lebihh dongg, Ribuann!!" Bales Kinan

"Ratusan Ribu!" Sahut Awan tak mau kalah.

Sahut-sahutan yang membuat mereka tertawa satu sama lainnya.


"Ki ayo ke Bekasi!" Kata Awan mengagetkan.

"Iihhhhh, kok tiba-tiba!"

"Iyaa,mumpung lagi di Blok M nih!"

"Ihh Bekasi ada apa lagi, orang panasnya ya 11-12 Jakarta kok"

"Mau kemananya, disana nanti kita pikirkan!" Seru Awan terus-menerus.

"Ihhh kamu ya mesti aneh deehhhh..."

"Udah iyain aja deh ya Ki" dan Awan menarik tangan Kinan, menembus berondongan sengatan matahari yang menusuk Blok M.

Segera saja mereka naik Bus Kota menembus jalan tol yang begitu mainstream: panas, gersang, aspal, dan tentu saja macet, meski berlabel mentereng sebagai jalan bebas hambatan.

Bekasi-pun datang kepada mereka. Itu batin Awan, walaupun secara teknis merekalah yang mendatangi Bekasi.

Mall-Mall menyambut mereka. Tiga Mall sekaligus.

"Ih Aw, ini jauh-jauh ke Bekasi cuma mau ke Mall? di Jakarta juga ada ratusan kaliikk!" Kinan yang kepanasan mencecar Awan dengan ketusnya.

"Ihh iya yaa, panas juga disini"

"Ihh tuh kan benerrr!"

"Ya udah Ki, kita ke tempat yang ademan aja..... Bogor yuk!! "

"Tuh kan, gak dipikir bener-bener kan, sekarang ganti lagiii!"

"Hehehe, ayem soly Kinan" coba Awan membujuk Kinan.

"Kamuu siihh, gak mikir duluuuu"

"Udah biar ademan kita kesana yaaaa"

"Iyah iyaahhh"

Bus pun mengantar mereka menanjak jalan keatas, menuju tempat yang katanya hujan tak pernah berhenti menghampiri.

Dan Awan dan Kinan pun sampai disebuah terminal di Bogor yang namanya susah disebutkan oleh lidah kaku Awan: Baranangsiang.

Mereka berjalan, ditengah dinginnya cuaca Bogor, kali ini dengan riang gembira. Tak ada lagi peluh dari sengatan matahari seperti mereka di Bekasi tadi.

Hujan mulai mengguyur rintik-rintik, ditambah mereka salah jalan pula. Kenekatan tanpa campuran pengetahuan hanya membawa mereka tersesat.

"Udah dah, naik angkot aja dah, yuk Ki" ajak Awan yang mulai frustasi salah jalan.

"Hihihi, tuuhh sok tau sihh, sok-sok-an mau jalan siihh" ledek Kinan.

Didalam Angkot banyak warga lokal yang berbicara bahasa sunda: "punten A'" salam seorang gadis ke Awan, karena ingin masuk ke Angkot.
Awan selalu suka bahasa sunda. Bahasa yang halus baginya.

Kebun Raya Bogor memiliki plang nama yang fotoable, dan mereka berdua, dengan noraknya berfoto didepan plang tersebut, meski hujan rintik-rintik, eksis tak boleh lewat.

"Aw udah mau tutup nih, kesorean kita ya"

"Gapapa Ki, yang penting foto-fotonya kan, hihihi"

"Iyah bener, xixixi"

Masih dengan hujan rintik-rintik mengiringi langkah mereka. Awan dan Kinan mengambil langkah dan mengamankan tempat untuk berfoto ditepi danau dengan Istana Bogor menjadi backgroundnya.

Hujan-hujanan, seakan tak perduli akan pilek yang bisa melanda mereka, yang penting seru-seruan, pikir mereka begitu.

Puas berfoto, mereka berteduh, kedinginan.

"Dingin ya Aw"

"Iya Ki, coba ada Cokelat Hangat siap minum yahh"

"Ihh mauuu"

Mereka cekikikan berdua.

Tawa Awan dan Kinan cukup menghangatkan, meski tak ada Cokelat Hangat yang mereka dambakan.

Rabu, 11 Juni 2014

Cerita Malam

Di Taman itu lagi.
Sore hari yang temaram.

Menarik membicarakan apa yang diinginkan.
Diwacanakan sebagai cita-cita. Dideklarasikan sebagai mimpi yang harus digapai.

"Ki, kota diluar sana mana yang mau kamu tuju buat liburan" tanya Awan suatu ketika.

"Paris! Very Romantic Place" Kinan berbinar-binar mengatakannya.

"Woowww, samaaaa, aku pengen banget kesana, dan muter-muter, kalo perlu gulung-gulung di Museum Louvre, gilak tu museum, kerennya kebangetan, one stop world masterpiece place" antusias Awan menjawab.

"Ihh kamuu, tiru-tiru aku muluukk Wkwkwkwk"

"Hihihi, iyakk gapapa duungggss"

"Ih keren ya Aw kota itu, kudu kesana dan merasakan sore harinya yang temaram"

"Pasti seru ya, tempat yang benar-benar berbeda, bedaaa bangeett"

"Ih bedanya apah aw?!"

"Itu kii, ituu... Beda Bahasa! Hahaha. Apalagi Aku kan gak bisa bahasa Prancis... Entar disana bakal ngomong pake bahasa tarzan dong ya, aauuoooouoooo"

"Hihi iyaaa, gapapa yang penting bisa ketemu Louvre-nya..."

"Kamu tauk, saking gandrungnya sama Paris, aku sampe beli miniatur Eiffel Tower, tingginya 46cm, lumayan gede buat dipelototin"

"Ihhh, segitunyaaa. Hihihi"

"Iya dongg!! Hahaha"

"Aw, apakah matahari disana sehangat disini?"

"Iyah dong Ki, hangatnya bisa mencairkan eskrim scop-an favoritmu" ujar Awan menatap Kinan yang melamun.

"Berarti aku kudu cepet-cepet abisin eskrim-ku dong"

"Iyah, nanti eskrim-nya biar cepet abis kita makan berdua, agar lelehnya dapat terasa dikedua raga kita yang dipersatukan satu hati, Kinan..."

"Aihh matiikk, gombaaalllll" Kinan berseru sambil memukul-mukul lengan Awan.

Awan meringis sambil tertawa.


Mereka berdua menyusuri jalan setapak taman.

Terkadang kaki mereka menginjak hijaunya rerumputan.
Hijau yang tajam.
Lebih hijau dari rumput tetangga manapun.

"Taman-taman disana ditumbuhin bunga apa ya Aw, indahkah?"

"Indah banget pasti Ki, Merah dan Kuning yang tumbuh diantara Rumput yang Hijau dan Langit yang Biru"

"Ki, kita juga harus ke Taman Chateau de Versailles, disana kita bisa berjalan menikmati indahnya Taman dengan Halaman Rumput yang dipangkas dengan desain yang unik dan menarik, merasakan bagaimana Louis XIV berjalan ketika dia bertahta di Kerajaan Prancis dulu, Taman yang tak ingin membawa kaki ketempat lain"

"Aw, Paris keren ya, harus banget kita kesana ya... Berdua"

"Iya Ki harus, aku ingin tanganku bisa menyentuh bunga-bunga indah disana, dan tangan lainnya menggenggam tanganmu"

Malam beranjak...

Bintang Bersinar Terang diatas Taman Suropati.
Mengantarkan mimpi-mimpi Awan dan Kinan melambung tinggi, diantara Pekatnya Malam dan Indahnya Sinar Bintang.