Sabtu, 19 Juli 2014
President Soekarno as a Politic Role Model
Golput di era Orde Baru adalah sebuah keberanian dengan nyali tinggi.
Sebuah idealisme luar biasa melawan sebuah tirani
Melawan sebuah kediktatoran!
Ya di era orde baru anda tak perlu menjadi Nostradamus untuk meramal siapa pemenangnya.
Meskipun ber-Calon Wakil Presiden-kan sendal jepit-pun, Sang Jendral Orde Baru pasti menjadi Kepala Pemerintahan Indonesia.
Di era reformasi
Golput mengalami degradasi nilai.
Bukan lagi sebagai manifesto keberanian melawan tembok tirani
Golput hanyalah tanda skeptisisme, bahkan lebih kasar lagi bisa dijudge sebagai sebuah kemalasan.
Ya Malas!
Di era reformasi ini mereka yang golput adalah para pemalas yang tak mau tau mencari informasi soal siapa Capres idealnya.
Meremahkan arti dari pemilihan presiden adalah bentuk mental yang anti-sosial.
Mereka yang golput tidak tahu betapa berbahayanya nasib satu generasi apabila salah pilih presiden.
Mau contoh?
Sebelum Bung Karno turun, beliau banyak memberikan beasiswa kepada mahasiswa-mahasiswa berprestasi, murni karena prestasi akademis, tanpa motif politik.
Sebagian besar beasiswa itu diarahkan untuk kuliah di negara-negara eropa timur yang pada era itu masih dikuasai paham komunis.
Lalu apa yang terjadi?
Roda berputar, Jendral Suharto naik, keluarlah kebijakan sapu bersih komunis.
Apa hubungan dengan mahasiswa-mahasiswa tersebut?
Apa mereka komunis? Tidak.
Apa mereka memberontak? Tidak.
Salah mereka, mereka dianggap orang-orang Bung Karno.
Lalu apa yang terjadi kepada mereka?
Mereka tak pernah bisa kembali ke Indonesia.
Blacklist orde baru, adalah bunuh diri jika mereka kembali ke Indonesia, karena penjara menanti dengan pasti.
Itulah contohnya betapa seorang presiden bisa membuat satu kebijakan yang mengubah satu generasi.
Mahasiswa berprestasi di era orde lama berubah menjadi buronan di era orde baru.
Lalu bagaimana caranya agar tidak skeptis terhadap pilpres?
miliki role model!
Dalam pemilihan presiden, saya hanya punya satu role model: Presiden Soekarno.
Dalam dua pemilu (2009 dan 2014) saya selalu mencari kesamaan capres yang saya dukung dengan karakter Bung Karno.
Di 2009, saya memilih JK dibanding SBY dan bahkan Megawati (putri kandung Bung Karno)
Bagi saya JK dengan sikap lugasnya, tanpa basa-basi, anti-protokol, cenderung hobi menabrak aturan demi pencapaian target, adalah representasi Bung Karno.
Dimasanya, Bung Karno dengan berani mengambil resiko finansial dengan membangun Stadion megah untuk Asian Games 1962, membangun jalan-jalan besar yang dinamai nama pahlawan seperti Jalan Diponegoro, Cokroaminoto dan lainnya.
Bung Karno dengan lantangnya menyebut penentang rencana pembangunannya tersebut sebagai orang berwawasan picik dan bermentalkan warung kelontong.
Bung Karno berkata bahwa itu bukan untuk keagungannya semata, tapi agar seluruh bangsa Indonesia dihargai dunia!
Masih dengan lantangnya Bung Karno berkata bahwa: "ya, memberantas kelaparan memang penting, tetapi memberi jiwa mereka yang telah tertindas dengan sesuatu yang dapat membangkitkan kebanggaan - ini juga penting!"
Ya, saya melihat spirit membangun JK, memiliki nafas Arsitektur Bung Karno: Kebanggaan Nasional!.
Sayang di 2009 JK kalah telak.
Di 2014, hanya ada dua nama yang menjadi Capres: Jokowi dan Prabowo.
Ini justru sangat memudahkan saya, hanya dengan sebelah mata saya langsung memilih Jokowi.
Mengapa bukan Prabowo?
Prabowo adalah bekas menantu Suharto dan punya spirit politik seperti bekas mertuanya itu.
Siapapun pengagum Bung Karno tau, bahwa Bung Karno meninggal sebagai tahanan politik, dengan pengobatan penyakit ala kadarnya dan diperlakukan dengan sangat buruk untuk level beliau sebagai Bapak Bangsa yang Memerdekakan Indonesia!
Itu semua ulah orde baru.
Puluhan tahun waktu berjalan
Perlakuan buruk Suharto terhadap Bung Karno tak akan bisa dilupakan begitu saja.
Ada satu lagi yang membuat saya memilih Jokowi: Blusukan.
Bung Karno dimasa sebelum 17 Agustus 1945 sangat suka berkeliling menemui rakyatnya.
Salah satu hasil blusukannya yang paling legendaris adalah pertemuannya dengan Petani Bumi Priangan bernama Marhaen.
Kelak pertemuan itu menginspirasi Bung Karno menggagas paham Marhaenisme.
Ya, spirit blusukan Jokowi, mengingatkan saya kepada pertemuan legendaris Bung Karno dengan Sang Petani tersebut.
Ya, saya menjadikan Bung Karno sebagai role model politik saya.
Pegangan saya disaat bimbang memilih pemimpin di Indonesia.
Ketika saya tak tahu harus memilih siapa
Saya duduk diam dan membaca ulang buku yang berisikan gagasan-gagasan politik Bung Karno.
Kemudian saya menjatuhkan pilihan politik saya.
Jumat, 18 Juli 2014
Hala Madrid Y Nada Mas (La Decima Song) Spanish and English Lyric
*Historia que tu hiciste
History that you made
Historia por hacer
History to be made
Porque nadie resiste
Because no one resists
Tus ganas de vencer
Your desire to win
Ya salen las estrellas
The stars are coming out
Mi viejo Chamartin
My old Chamartin
De lejos y de cerca
From far and near
Nos traes hasta aqui
You bring us till here
**Llevo tu camiseta
I wear your jersey
Pegada al corazon
Close to my heart
Los dias que tu juegas
The days that you play
Son todo lo que soy
Are all that I am
Ya corre la saeta
Now run the bolt
Ya ataca mi Madrid
My Madrid is attacking
Soy lucha, soy belleza
I am fight I am beauty
El grito que aprendi
The chant that I have learnt
Madrid
Madrid
Madrid
Hala madrid
Y nada mas
And nothing else
Y nada mas
And nothing else
Hala madrid
Back To *
Back To **
History that you made
Historia por hacer
History to be made
Porque nadie resiste
Because no one resists
Tus ganas de vencer
Your desire to win
Ya salen las estrellas
The stars are coming out
Mi viejo Chamartin
My old Chamartin
De lejos y de cerca
From far and near
Nos traes hasta aqui
You bring us till here
**Llevo tu camiseta
I wear your jersey
Pegada al corazon
Close to my heart
Los dias que tu juegas
The days that you play
Son todo lo que soy
Are all that I am
Ya corre la saeta
Now run the bolt
Ya ataca mi Madrid
My Madrid is attacking
Soy lucha, soy belleza
I am fight I am beauty
El grito que aprendi
The chant that I have learnt
Madrid
Madrid
Madrid
Hala madrid
Y nada mas
And nothing else
Y nada mas
And nothing else
Hala madrid
Back To *
Back To **
Kamis, 03 Juli 2014
Traveling Places: Quality or Quantity?
Banyak tempat
Sangat banyak malah
Destinasi wisata yang sayang untuk dilewatkan.
Wisata alam yang menyajikan panorama tiada duanya.
Wisata budaya kota dengan arsitektur berkelasnya.
Wisata kuliner yang memanjakan lidah.
Dan sejuta hal baru lainnya yang bisa kita temui dari sebuah traveling.
Dari begitu banyak tempat wisata dan daya tariknya....
Seberapa lama dia bisa menahanmu?
Apakah anda hanya mencicipi sedikit cita rasa kue disuatu kota dan mencari kue lain di kota lain?
Atau bertahan menghabiskan satu kue utuh, memesan lagi, memakannya lagi, dan bosan, dan baru pindah mencari kue di kota lain?
Sebenarnya...
Mana yang paling benar?
Dalam sebulan menyinggahi 10 kota
Atau
Tetap di satu kota saja selama sebulan.
Tentu saja kembali pada apa yang kita cari.
Mereka yang cukup puas dengan hanya sekedar foto-foto di objek wisata, akan memilih opsi pertama.
Tapi mereka yang ingin pengalaman utuh, pembelajaran budaya penuh tentang suatu kota, akan memilih opsi lainnya.
Saya pribadi, memilih opsi kedua.
Saya pernah beberapa kali traveling di suatu tempat hanya dalam waktu singkat, menarik, saya berfoto, pulang, dan melupakannya.
Tapi pernah, suatu waktu selama satu tahun saya stay disuatu kota, menjelajah kota dan berteman dengan penduduk lokal, berkesan dan tak pernah terlupakan.
Sebuah pilihan memang.
Pilihan yang saya sukai.
Setelah kota tadi, ada kota lain yang ingin saya jelajahi dalam periode waktu yang lama.
Semoga saya mendapatkan seperti yang saya rasakan di kota sebelumnya...
Kepuasan.
Rabu, 02 Juli 2014
Iklan Ramadhan Djarum
Anda pernah menonton iklannya?
Iklan ini bercerita tentang seorang karyawati perempuan yang malu dijemput ayahnya dengan motor butut.
Dia malu mengakui ayahnya didepan teman-temannya.
Diakhir cerita seperti iklan Ramadhan lainnya, karyawati tersebut akhirnya berbesar hati mengakui kalau pria tua dengan motor butut itu ayahnya.
Apa pesan moralnya?
Umumnya kita berkesimpulan bahwa kita harus berbangga dengan apapun keadaan ayah kita.
Itu sebuah kesimpulan yang tidak salah.
Hanya saja saya terpikirkan alternatif pesan moral yang lain.
Kesimpulan yang saya ambil, bukan persepsi dari sudut pandang si anak.
Tapi dari sudut pandang si ayah.
Saat ini atau kelak.
Kita akan menjadi orang tua.
Suatu fase yang pasti terjadi.
Ada sebuah quotes yang menasehati generasi muda: "sengsara diwaktu muda itu biasa, sengsara diwaktu tua itu menyedihkan"
Kembali ke Iklan.
Jika kita mengambil pesan moral dari sudut pandang si ayah.
Maka seharusnya kita bekerja keras di karir kita masing-masing, agar ketika anak-anak kita dewasa, mereka akan dengan bangga mengatakan: "lihat ayah sudah menjemputku"
Maka untuk itu, kita harus bekerja keras meniti karir, agar kelak bukan saja kita yang membanggakan prestasi si anak, akan tetapi anak kita turut bangga dengan prestasi kita orangtuanya.
Oh salahkah saya dengan pemikiran seperti itu?
Iklan ini bercerita tentang seorang karyawati perempuan yang malu dijemput ayahnya dengan motor butut.
Dia malu mengakui ayahnya didepan teman-temannya.
Diakhir cerita seperti iklan Ramadhan lainnya, karyawati tersebut akhirnya berbesar hati mengakui kalau pria tua dengan motor butut itu ayahnya.
Apa pesan moralnya?
Umumnya kita berkesimpulan bahwa kita harus berbangga dengan apapun keadaan ayah kita.
Itu sebuah kesimpulan yang tidak salah.
Hanya saja saya terpikirkan alternatif pesan moral yang lain.
Kesimpulan yang saya ambil, bukan persepsi dari sudut pandang si anak.
Tapi dari sudut pandang si ayah.
Saat ini atau kelak.
Kita akan menjadi orang tua.
Suatu fase yang pasti terjadi.
Ada sebuah quotes yang menasehati generasi muda: "sengsara diwaktu muda itu biasa, sengsara diwaktu tua itu menyedihkan"
Kembali ke Iklan.
Jika kita mengambil pesan moral dari sudut pandang si ayah.
Maka seharusnya kita bekerja keras di karir kita masing-masing, agar ketika anak-anak kita dewasa, mereka akan dengan bangga mengatakan: "lihat ayah sudah menjemputku"
Maka untuk itu, kita harus bekerja keras meniti karir, agar kelak bukan saja kita yang membanggakan prestasi si anak, akan tetapi anak kita turut bangga dengan prestasi kita orangtuanya.
Oh salahkah saya dengan pemikiran seperti itu?
Sabtu, 21 Juni 2014
Sunset Putra Sang Fajar
Hari ini 21 Juni.
Hari yang cukup ramai di Media Sosial.
Ramai dengan ucapan selamat ulang tahun untuk (calon) Presiden Jokowi.
Generasi muda beramai-ramai mengucapkan kepada sang capres.
Hari ini, ditengah ucapan selamat itu semua, generasi muda lupa, bahkan mungkin tidak tahu, bahwa hari ini pada tahun 1970, di hari yang sama ketika orang yang kelak menjadi Gubernur DKI berulang tahun ke sembilan, telah wafat seorang Penyambung Lidah Rakyat:
Bung Karno.
Ya Bung Karno wafat hari ini, oleh Orde Baru beliau dimakamkan di Blitar, dengan alasan itu kota kelahiran beliau.
Manipulasi yang tidak valid.
Alasan itu jelas salah dan tak bisa dipakai, karena Bung Karno lahir di Surabaya.
Semua pihak yakin, bahwa memakamkan Sang Proklamator disana adalah upaya Orba menghilangkan pengaruh sang Presiden Pertama dari Indonesia selamanya.
Padahal Bung Karno pernah menyebutkan ingin dimakamkan di Bumi Priangan. Tempat dia bertemu Petani Marhaen, yang menginspirasinya menggagas Marhaenisme.
Bung Karno meninggal dalam status tahanan politik.
Bung Karno meninggal dengan perlakuan yang sangat tidak layak dari Suharto dan Orde Baru.
Dua puluh satu Juni 1970.
Putra Sang Fajar tenggelam bagai Langit Senja.
Suatu hari yang mengawali Indonesia mengarungi tahun-tahun malam tanpa bintang, sampai matahari kembali terbit di tahun 1998.
Hari yang cukup ramai di Media Sosial.
Ramai dengan ucapan selamat ulang tahun untuk (calon) Presiden Jokowi.
Generasi muda beramai-ramai mengucapkan kepada sang capres.
Hari ini, ditengah ucapan selamat itu semua, generasi muda lupa, bahkan mungkin tidak tahu, bahwa hari ini pada tahun 1970, di hari yang sama ketika orang yang kelak menjadi Gubernur DKI berulang tahun ke sembilan, telah wafat seorang Penyambung Lidah Rakyat:
Bung Karno.
Ya Bung Karno wafat hari ini, oleh Orde Baru beliau dimakamkan di Blitar, dengan alasan itu kota kelahiran beliau.
Manipulasi yang tidak valid.
Alasan itu jelas salah dan tak bisa dipakai, karena Bung Karno lahir di Surabaya.
Semua pihak yakin, bahwa memakamkan Sang Proklamator disana adalah upaya Orba menghilangkan pengaruh sang Presiden Pertama dari Indonesia selamanya.
Padahal Bung Karno pernah menyebutkan ingin dimakamkan di Bumi Priangan. Tempat dia bertemu Petani Marhaen, yang menginspirasinya menggagas Marhaenisme.
Bung Karno meninggal dalam status tahanan politik.
Bung Karno meninggal dengan perlakuan yang sangat tidak layak dari Suharto dan Orde Baru.
Dua puluh satu Juni 1970.
Putra Sang Fajar tenggelam bagai Langit Senja.
Suatu hari yang mengawali Indonesia mengarungi tahun-tahun malam tanpa bintang, sampai matahari kembali terbit di tahun 1998.
Senin, 16 Juni 2014
Cokelat Hangat
Hembusan angin yang berselimutkan debu selalu menjadi pengalaman sehari-hari diteriknya siang bolong Blok M.
Banyak Bus datang dan pergi bersama para pendatang, sebagian kecil akan kembali ke kampung halamannya, sebagian besar lainnya menolak menyerah menaklukkan gedung pencakar langit ibukota.
Angka-angka berjumlah begitu banyak menghitung perpindahan raga manusia setiap harinya.
Namun tak pernah terpetakan, berapa banyaknya harapan yang digantungkan seiring berhentinya bus di terminal, bersama Sang Perantau, di Jakarta.
Ditengah padang gurun, para pengembara menepi diteduhnya Oase.
Kafe disekitar terminal adalah kemewahan yang sederhana.
Bukan hanya untuk mereka para perantau.
Namun mereka muda-mudi pun ada.
"Dingin ya Aww" komen Kinan sambil melihat kesekeliling Cafe.
"Iyyaa Ki, AC nya kebangetan" Awan mengangguk-angguk.
"Kupesenin yang anget-anget dulu yakk, Kii"
Awan dan Kinan menyeruput hangatnya Cafe Drinks.
Yang sederhana disaat yang tepat adalah sebuah kemewahan tersendiri.
"Blok M ramenya gak pernah sepi" ucap Kinan, melihat jalanan dari balik kaca kafe.
"Ada berapa orang yang datang dan pergi ya Aww"
"Ratusan kalik" Awan menyahut sambil menyeruput minumannya.
"Ihh lebihh dongg, Ribuann!!" Bales Kinan
"Ratusan Ribu!" Sahut Awan tak mau kalah.
Sahut-sahutan yang membuat mereka tertawa satu sama lainnya.
"Ki ayo ke Bekasi!" Kata Awan mengagetkan.
"Iihhhhh, kok tiba-tiba!"
"Iyaa,mumpung lagi di Blok M nih!"
"Ihh Bekasi ada apa lagi, orang panasnya ya 11-12 Jakarta kok"
"Mau kemananya, disana nanti kita pikirkan!" Seru Awan terus-menerus.
"Ihhh kamu ya mesti aneh deehhhh..."
"Udah iyain aja deh ya Ki" dan Awan menarik tangan Kinan, menembus berondongan sengatan matahari yang menusuk Blok M.
Segera saja mereka naik Bus Kota menembus jalan tol yang begitu mainstream: panas, gersang, aspal, dan tentu saja macet, meski berlabel mentereng sebagai jalan bebas hambatan.
Bekasi-pun datang kepada mereka. Itu batin Awan, walaupun secara teknis merekalah yang mendatangi Bekasi.
Mall-Mall menyambut mereka. Tiga Mall sekaligus.
"Ih Aw, ini jauh-jauh ke Bekasi cuma mau ke Mall? di Jakarta juga ada ratusan kaliikk!" Kinan yang kepanasan mencecar Awan dengan ketusnya.
"Ihh iya yaa, panas juga disini"
"Ihh tuh kan benerrr!"
"Ya udah Ki, kita ke tempat yang ademan aja..... Bogor yuk!! "
"Tuh kan, gak dipikir bener-bener kan, sekarang ganti lagiii!"
"Hehehe, ayem soly Kinan" coba Awan membujuk Kinan.
"Kamuu siihh, gak mikir duluuuu"
"Udah biar ademan kita kesana yaaaa"
"Iyah iyaahhh"
Bus pun mengantar mereka menanjak jalan keatas, menuju tempat yang katanya hujan tak pernah berhenti menghampiri.
Dan Awan dan Kinan pun sampai disebuah terminal di Bogor yang namanya susah disebutkan oleh lidah kaku Awan: Baranangsiang.
Mereka berjalan, ditengah dinginnya cuaca Bogor, kali ini dengan riang gembira. Tak ada lagi peluh dari sengatan matahari seperti mereka di Bekasi tadi.
Hujan mulai mengguyur rintik-rintik, ditambah mereka salah jalan pula. Kenekatan tanpa campuran pengetahuan hanya membawa mereka tersesat.
"Udah dah, naik angkot aja dah, yuk Ki" ajak Awan yang mulai frustasi salah jalan.
"Hihihi, tuuhh sok tau sihh, sok-sok-an mau jalan siihh" ledek Kinan.
Didalam Angkot banyak warga lokal yang berbicara bahasa sunda: "punten A'" salam seorang gadis ke Awan, karena ingin masuk ke Angkot.
Awan selalu suka bahasa sunda. Bahasa yang halus baginya.
Kebun Raya Bogor memiliki plang nama yang fotoable, dan mereka berdua, dengan noraknya berfoto didepan plang tersebut, meski hujan rintik-rintik, eksis tak boleh lewat.
"Aw udah mau tutup nih, kesorean kita ya"
"Gapapa Ki, yang penting foto-fotonya kan, hihihi"
"Iyah bener, xixixi"
Masih dengan hujan rintik-rintik mengiringi langkah mereka. Awan dan Kinan mengambil langkah dan mengamankan tempat untuk berfoto ditepi danau dengan Istana Bogor menjadi backgroundnya.
Hujan-hujanan, seakan tak perduli akan pilek yang bisa melanda mereka, yang penting seru-seruan, pikir mereka begitu.
Puas berfoto, mereka berteduh, kedinginan.
"Dingin ya Aw"
"Iya Ki, coba ada Cokelat Hangat siap minum yahh"
"Ihh mauuu"
Mereka cekikikan berdua.
Tawa Awan dan Kinan cukup menghangatkan, meski tak ada Cokelat Hangat yang mereka dambakan.
Banyak Bus datang dan pergi bersama para pendatang, sebagian kecil akan kembali ke kampung halamannya, sebagian besar lainnya menolak menyerah menaklukkan gedung pencakar langit ibukota.
Angka-angka berjumlah begitu banyak menghitung perpindahan raga manusia setiap harinya.
Namun tak pernah terpetakan, berapa banyaknya harapan yang digantungkan seiring berhentinya bus di terminal, bersama Sang Perantau, di Jakarta.
Ditengah padang gurun, para pengembara menepi diteduhnya Oase.
Kafe disekitar terminal adalah kemewahan yang sederhana.
Bukan hanya untuk mereka para perantau.
Namun mereka muda-mudi pun ada.
"Dingin ya Aww" komen Kinan sambil melihat kesekeliling Cafe.
"Iyyaa Ki, AC nya kebangetan" Awan mengangguk-angguk.
"Kupesenin yang anget-anget dulu yakk, Kii"
Awan dan Kinan menyeruput hangatnya Cafe Drinks.
Yang sederhana disaat yang tepat adalah sebuah kemewahan tersendiri.
"Blok M ramenya gak pernah sepi" ucap Kinan, melihat jalanan dari balik kaca kafe.
"Ada berapa orang yang datang dan pergi ya Aww"
"Ratusan kalik" Awan menyahut sambil menyeruput minumannya.
"Ihh lebihh dongg, Ribuann!!" Bales Kinan
"Ratusan Ribu!" Sahut Awan tak mau kalah.
Sahut-sahutan yang membuat mereka tertawa satu sama lainnya.
"Ki ayo ke Bekasi!" Kata Awan mengagetkan.
"Iihhhhh, kok tiba-tiba!"
"Iyaa,mumpung lagi di Blok M nih!"
"Ihh Bekasi ada apa lagi, orang panasnya ya 11-12 Jakarta kok"
"Mau kemananya, disana nanti kita pikirkan!" Seru Awan terus-menerus.
"Ihhh kamu ya mesti aneh deehhhh..."
"Udah iyain aja deh ya Ki" dan Awan menarik tangan Kinan, menembus berondongan sengatan matahari yang menusuk Blok M.
Segera saja mereka naik Bus Kota menembus jalan tol yang begitu mainstream: panas, gersang, aspal, dan tentu saja macet, meski berlabel mentereng sebagai jalan bebas hambatan.
Bekasi-pun datang kepada mereka. Itu batin Awan, walaupun secara teknis merekalah yang mendatangi Bekasi.
Mall-Mall menyambut mereka. Tiga Mall sekaligus.
"Ih Aw, ini jauh-jauh ke Bekasi cuma mau ke Mall? di Jakarta juga ada ratusan kaliikk!" Kinan yang kepanasan mencecar Awan dengan ketusnya.
"Ihh iya yaa, panas juga disini"
"Ihh tuh kan benerrr!"
"Ya udah Ki, kita ke tempat yang ademan aja..... Bogor yuk!! "
"Tuh kan, gak dipikir bener-bener kan, sekarang ganti lagiii!"
"Hehehe, ayem soly Kinan" coba Awan membujuk Kinan.
"Kamuu siihh, gak mikir duluuuu"
"Udah biar ademan kita kesana yaaaa"
"Iyah iyaahhh"
Bus pun mengantar mereka menanjak jalan keatas, menuju tempat yang katanya hujan tak pernah berhenti menghampiri.
Dan Awan dan Kinan pun sampai disebuah terminal di Bogor yang namanya susah disebutkan oleh lidah kaku Awan: Baranangsiang.
Mereka berjalan, ditengah dinginnya cuaca Bogor, kali ini dengan riang gembira. Tak ada lagi peluh dari sengatan matahari seperti mereka di Bekasi tadi.
Hujan mulai mengguyur rintik-rintik, ditambah mereka salah jalan pula. Kenekatan tanpa campuran pengetahuan hanya membawa mereka tersesat.
"Udah dah, naik angkot aja dah, yuk Ki" ajak Awan yang mulai frustasi salah jalan.
"Hihihi, tuuhh sok tau sihh, sok-sok-an mau jalan siihh" ledek Kinan.
Didalam Angkot banyak warga lokal yang berbicara bahasa sunda: "punten A'" salam seorang gadis ke Awan, karena ingin masuk ke Angkot.
Awan selalu suka bahasa sunda. Bahasa yang halus baginya.
Kebun Raya Bogor memiliki plang nama yang fotoable, dan mereka berdua, dengan noraknya berfoto didepan plang tersebut, meski hujan rintik-rintik, eksis tak boleh lewat.
"Aw udah mau tutup nih, kesorean kita ya"
"Gapapa Ki, yang penting foto-fotonya kan, hihihi"
"Iyah bener, xixixi"
Masih dengan hujan rintik-rintik mengiringi langkah mereka. Awan dan Kinan mengambil langkah dan mengamankan tempat untuk berfoto ditepi danau dengan Istana Bogor menjadi backgroundnya.
Hujan-hujanan, seakan tak perduli akan pilek yang bisa melanda mereka, yang penting seru-seruan, pikir mereka begitu.
Puas berfoto, mereka berteduh, kedinginan.
"Dingin ya Aw"
"Iya Ki, coba ada Cokelat Hangat siap minum yahh"
"Ihh mauuu"
Mereka cekikikan berdua.
Tawa Awan dan Kinan cukup menghangatkan, meski tak ada Cokelat Hangat yang mereka dambakan.
Rabu, 11 Juni 2014
Cerita Malam
Di Taman itu lagi.
Sore hari yang temaram.
Menarik membicarakan apa yang diinginkan.
Diwacanakan sebagai cita-cita. Dideklarasikan sebagai mimpi yang harus digapai.
"Ki, kota diluar sana mana yang mau kamu tuju buat liburan" tanya Awan suatu ketika.
"Paris! Very Romantic Place" Kinan berbinar-binar mengatakannya.
"Woowww, samaaaa, aku pengen banget kesana, dan muter-muter, kalo perlu gulung-gulung di Museum Louvre, gilak tu museum, kerennya kebangetan, one stop world masterpiece place" antusias Awan menjawab.
"Ihh kamuu, tiru-tiru aku muluukk Wkwkwkwk"
"Hihihi, iyakk gapapa duungggss"
"Ih keren ya Aw kota itu, kudu kesana dan merasakan sore harinya yang temaram"
"Pasti seru ya, tempat yang benar-benar berbeda, bedaaa bangeett"
"Ih bedanya apah aw?!"
"Itu kii, ituu... Beda Bahasa! Hahaha. Apalagi Aku kan gak bisa bahasa Prancis... Entar disana bakal ngomong pake bahasa tarzan dong ya, aauuoooouoooo"
"Hihi iyaaa, gapapa yang penting bisa ketemu Louvre-nya..."
"Kamu tauk, saking gandrungnya sama Paris, aku sampe beli miniatur Eiffel Tower, tingginya 46cm, lumayan gede buat dipelototin"
"Ihhh, segitunyaaa. Hihihi"
"Iya dongg!! Hahaha"
"Aw, apakah matahari disana sehangat disini?"
"Iyah dong Ki, hangatnya bisa mencairkan eskrim scop-an favoritmu" ujar Awan menatap Kinan yang melamun.
"Berarti aku kudu cepet-cepet abisin eskrim-ku dong"
"Iyah, nanti eskrim-nya biar cepet abis kita makan berdua, agar lelehnya dapat terasa dikedua raga kita yang dipersatukan satu hati, Kinan..."
"Aihh matiikk, gombaaalllll" Kinan berseru sambil memukul-mukul lengan Awan.
Awan meringis sambil tertawa.
Mereka berdua menyusuri jalan setapak taman.
Terkadang kaki mereka menginjak hijaunya rerumputan.
Hijau yang tajam.
Lebih hijau dari rumput tetangga manapun.
"Taman-taman disana ditumbuhin bunga apa ya Aw, indahkah?"
"Indah banget pasti Ki, Merah dan Kuning yang tumbuh diantara Rumput yang Hijau dan Langit yang Biru"
"Ki, kita juga harus ke Taman Chateau de Versailles, disana kita bisa berjalan menikmati indahnya Taman dengan Halaman Rumput yang dipangkas dengan desain yang unik dan menarik, merasakan bagaimana Louis XIV berjalan ketika dia bertahta di Kerajaan Prancis dulu, Taman yang tak ingin membawa kaki ketempat lain"
"Aw, Paris keren ya, harus banget kita kesana ya... Berdua"
"Iya Ki harus, aku ingin tanganku bisa menyentuh bunga-bunga indah disana, dan tangan lainnya menggenggam tanganmu"
Malam beranjak...
Bintang Bersinar Terang diatas Taman Suropati.
Mengantarkan mimpi-mimpi Awan dan Kinan melambung tinggi, diantara Pekatnya Malam dan Indahnya Sinar Bintang.
Sore hari yang temaram.
Menarik membicarakan apa yang diinginkan.
Diwacanakan sebagai cita-cita. Dideklarasikan sebagai mimpi yang harus digapai.
"Ki, kota diluar sana mana yang mau kamu tuju buat liburan" tanya Awan suatu ketika.
"Paris! Very Romantic Place" Kinan berbinar-binar mengatakannya.
"Woowww, samaaaa, aku pengen banget kesana, dan muter-muter, kalo perlu gulung-gulung di Museum Louvre, gilak tu museum, kerennya kebangetan, one stop world masterpiece place" antusias Awan menjawab.
"Ihh kamuu, tiru-tiru aku muluukk Wkwkwkwk"
"Hihihi, iyakk gapapa duungggss"
"Ih keren ya Aw kota itu, kudu kesana dan merasakan sore harinya yang temaram"
"Pasti seru ya, tempat yang benar-benar berbeda, bedaaa bangeett"
"Ih bedanya apah aw?!"
"Itu kii, ituu... Beda Bahasa! Hahaha. Apalagi Aku kan gak bisa bahasa Prancis... Entar disana bakal ngomong pake bahasa tarzan dong ya, aauuoooouoooo"
"Hihi iyaaa, gapapa yang penting bisa ketemu Louvre-nya..."
"Kamu tauk, saking gandrungnya sama Paris, aku sampe beli miniatur Eiffel Tower, tingginya 46cm, lumayan gede buat dipelototin"
"Ihhh, segitunyaaa. Hihihi"
"Iya dongg!! Hahaha"
"Aw, apakah matahari disana sehangat disini?"
"Iyah dong Ki, hangatnya bisa mencairkan eskrim scop-an favoritmu" ujar Awan menatap Kinan yang melamun.
"Berarti aku kudu cepet-cepet abisin eskrim-ku dong"
"Iyah, nanti eskrim-nya biar cepet abis kita makan berdua, agar lelehnya dapat terasa dikedua raga kita yang dipersatukan satu hati, Kinan..."
"Aihh matiikk, gombaaalllll" Kinan berseru sambil memukul-mukul lengan Awan.
Awan meringis sambil tertawa.
Mereka berdua menyusuri jalan setapak taman.
Terkadang kaki mereka menginjak hijaunya rerumputan.
Hijau yang tajam.
Lebih hijau dari rumput tetangga manapun.
"Taman-taman disana ditumbuhin bunga apa ya Aw, indahkah?"
"Indah banget pasti Ki, Merah dan Kuning yang tumbuh diantara Rumput yang Hijau dan Langit yang Biru"
"Ki, kita juga harus ke Taman Chateau de Versailles, disana kita bisa berjalan menikmati indahnya Taman dengan Halaman Rumput yang dipangkas dengan desain yang unik dan menarik, merasakan bagaimana Louis XIV berjalan ketika dia bertahta di Kerajaan Prancis dulu, Taman yang tak ingin membawa kaki ketempat lain"
"Aw, Paris keren ya, harus banget kita kesana ya... Berdua"
"Iya Ki harus, aku ingin tanganku bisa menyentuh bunga-bunga indah disana, dan tangan lainnya menggenggam tanganmu"
Malam beranjak...
Bintang Bersinar Terang diatas Taman Suropati.
Mengantarkan mimpi-mimpi Awan dan Kinan melambung tinggi, diantara Pekatnya Malam dan Indahnya Sinar Bintang.
Langganan:
Postingan (Atom)

